 |

Friday, December 23, 2005
Sinar matamu Pancarkan kedamaian Yang slama ini ku impikan Lirih Suaramu Taburkan kesejukan Besar artinya untuk diriku Lembut sikapmu Hadirkan kehangatan Yang slalu ingin ku ungkapkan Manis senyummu Getarkan jiwa ini Abadilah adanya dirimu Damainya cinta untukmu…. Yang tak kan mungkin hilang semua Lembutnya cinta untukmu ….. Kan kupeluk selamanya …….
Posted at 02:10 pm by deccom
Permalink
Monday, April 18, 2005
Tentang Perkawinan ("Temanku ... Semoga Bermanfaat)
Tujuan PerkawinanPerkawinan merupakan kebtuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting, di antaranya adalah: 1. Pembentukan sebuah keluarga yang di dalamnya seseorangd apat menemukan kedamaian pikiran. Orang yang tidak kawin bagaikan seekor burung tanpa sarang. Perkawinan merupakan perlindungan bagi seseorang yang merasa seolah-olah hilang di belantara kehidupan; orang dapat menemukan pasangan hidup yang akan berbagi dalam kesenangan dan penderitaan. 2. Gairah seksual merupakan keinginan yang kuat dan juga penting. Setiap orang harus mempunyai pasangan utnuk memenuhi kebutuhan seksualnya dalam lingkungan yang aman dan tenang. Orang harus menikmati kepuasan seksual dengan cara yang benar dan wajar. Orang-orang yang tidak mau kawin seringkali menderita ketidakteraturan baik secara fisik maupun psikologis. Ketidakteraturan semacam itu dan juga persoalan-persoalan tertentu merupakan akibat langsung dari penolakan kaum muda terhadap perkawinan. 3. Reproduksi atau sebagai waah untuk melangsungkan keturunan. Melalui perkawinan, perkembangbiakan manusia akan berlanjut. Anak-anak adalah hasil dari perkawinan dan merupakan factor-faktor penting dalam memantapkan fondasi kelaurga dan juga merupakan sumber kebahagiaan sejati bagi orangtua mereka. Di dalam Al-Quran dan hadis, perkawinan dan anak-anak sangat ditekankan. Allah SWT menyatakan dalam Al-Quran: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. (QS 30:21) Rasulullah SAWW bersabda, “Tidak ada suatu bentuk yang lebih baik di dalam Islam daripada perkawinan.” Dan “Barangsiapa memilih untuk mengikuti sunnahku, maka ia harus kawin dan melahirkan anak-anak sehingga aku dapat melihat umatku dalam jumlah yang besar.” Imam Ali a.s. menyatakan, “Kawinlah, karena ini merupakan sunnah Nabi.” Imam Ridha a.s. menyatakan , Milik seorang pria yang paling berharga adalah istri yang setia yang bila ia melihat istrinya itu, ia menjadi bahagia, dan istrinya itu melindungi harta dan kehormatannya ketika suaminya sedang pergi.” Apa yang kita bahas sejauh ini hanya dari segi duniawi dan segi kemakhlukan dalam perkawinan yang dilakukan oleh hewan: keuntungan dalam kebersamaan dan reproduksi. Tujuan perkawinan yang sejati bagi mansuia memiliki jenis yang berbeda. Kehadiran mansuia di dunia bukan semata-mata untuk makan, minum, tidur, mencari kesenangan atau mengumbar nafsu dan kemudian mati dan dihancurkan. Status manusia lebih tinggi daripada perbuatan-[erbuatan semacam itu. Manusia diharuskan melatih diri dan jiwa mereka dengan jalan mencari ilmu, melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan bertingkah laku terpuji. Manusia diharuskan mengambil langkah-langkah di jalan yang lurus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Manusia adallah suatu ciptaan yang mampu membersihkan jiwa dengan jalan menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan melatih diri berkelakuan baik guna mencapai tingkat yang tak mampu dicapai oleh malaikat. MAnusia adalah ciptaan abadi. Manusia telah datang ke dunia dan melalui bimbingan para Rasul dan contoh penerapan program-program yang ditetapkan ISlam --untuk memelihara kebahagiaannya di dunia dan akhirat-- ia dapat hidup dengan damai secara kekal. Karena itu, tujuan perkawinan harus dicari dalam konteks spiritual. Tujuan sebuah perkawinan bagi orang beragama harus merupakan suatu alat untuk menghindarkan diri dari perbuatan jelek dan menjauhkan diri dari dosa. Dalam konteks inilah pasangan yang baik dan cocok memegang peranan penting. Bila dua orang beriman melalui perkawinan membentuk sebuah keluarga, maka hubungan seksual mereka pun akan memberikan keuntungan dalam memperkuat rasa saling mencintai dan menyayangi yanga da dalam diri mereka. Bagi pasangan yang demikian itu, tidak akan ada bahaya yang mengancam dalam hal penyelewengans eksual, kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan, ataupun perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Rasulullah SAWW dan semua Imam telah memberikan penekanan yang kuat pada lembaga perkawinan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan perkawinan maka ia telah melindungi sebagiand ari agamanya.” Imam Shadiq a.s. menyatakan, “Sahalat dua rakaat yang dilakukan oleh orang yang kawin lebih baik dari shalat 70 rakaat yang dilakukan oleh seorang bujangan.” (Dikutip dari buku “Bimbingan Islam untuk Kehidupan Suami Istri” karya Ibrahim Amini, seorang ulama terkemuka Iran.) KELUARGA DAN PERKAWINANKeluarga, seperti ayah, ibu, saudara yang lebih besar, dan keluarga-keluarga yang lain seperti paman dari ibu ataupun dari ayah bisa membantu pemuda dan pemudi yang ingin berkeluarga. Bagaimanapun juga, mereka mempunyai pengalaman yang cukup luas dalam kehidupan, bahkan mereka telah merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Karenanya, mereka bisa memberikan petunjuk kepada pemuda jalan yang benar dan menawarkan kepadanya seorang wanita yang hendak dinikahinya, kemudian memberikan kesempatan untuk mengambil keputusan. Jika ia tidak dapat mengambil keputusan, maka orang tua harus menjelaskan apa yang baik bagi lelaki tadi tanpa harus melakukan intervensi dalam masalah-masalah pribadi. Selanjutnya, mereka tetap harus menyerahkan kepada lelaki tadi untuk mengambil keputusan terakhir. Perlu kami tegaskan kepada seluruh keluarga dalam masalah penting ini, yaitu bahwa pemuda dan pemudilah yang ingin hidup bersama dalam waktu yang cukup panjang dan bukannya orang-orang tua itu. Karena itu, merekalah yang harus membuat keputusan untuk menerima satu sama lain. Oleh karena itu tugas keluarga (orang tua) hanyalah memberitahukan kepada mereka mengenai pengalaman-pengalamannya atau nasihat-nasihatnya yang berharga. Adalah tidak adil jika orang tua memutuskan perkawinan anak-anak mereka tanpa mempedulikan pendapat mereka, karena yang demikian ini akan membawa kehidupan yang penuh kesusahan dan kepedihan. Jika sampai terjadi, menurut pendapat saya hal ini adalah sebuah dosa besar yang akan dipertanyakan pada hari kiamat. Pentingnya Musyawarah dalam PerkawinanMusyawarah mempunyai peranan yang penting di dalam Islam. Al-Quran dan hadist-hadist telah menjelaskan dan mewasiatkan pentingnya musyawarah. Allah berfirman kepada Nabi SAWW, “Dan bermusyawarahlah kepada mereka dalam suatu perkara, maka jika engkau memutuskan untuk melakukan sesuatu hendaknya bertawakal kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 159) Kepada kaum muslimin, Allah berfirman, “Dan dalam perkara mereka, hendaklah mereka selalu bermusyawarah.” (QS. Asy-Syura : 38). Dalam sebuah hadist tentang musyawarah, Rasulullah SAWW ditanya, “Apakah hazm itu ? Rasulullah SAWW menjawab, “Tidak ada penolong yang lebih dipercaya kecuali musyawarah dan tidak ada kesempurnaan akal seperti pandai dalam mengatur.” Rasul SAWW juga bersabda, “Bermusyawarah dengan orang yang berpengalaman dan yang mampu memberikan nasehat akan memberikan barakah, petunjuk, serta taufik dari Allah. Maka jika ia (orang yang berpengalaman itu) menyarankan kepadamu sesuatu, maka turutilah dan jangan melakukan keputusan yang berbeda karena itu akan membuatmu celaka.” Bermusyawarah dengan orang yang berpengalaman dapat memberikan faedah dan pelajaran yang berharga. Begitu pula seseorang yang bermusyawarah dengan orang lain dalam masalah-masalah penting, ia akan sedikit melakukan kesalahan dan penyesalan. Akan tetapi, berkaitan dengan orang yang kita ajak bersmusyawarah itu tentu saja ada sejumlah kriteria yang harus kita perhatikan dengan baik. Pertama-tama, tidak mungkin kita bermusyawarah dengan sembarang orang, karena orang bodoh tidak mengetahui kepentingan yang sebenarnya. Lagi pula, bagaimana mungkin orang bodoh itu mampu menjelaskannya sesuatu kepada orang yang mengajaknya bermusyawarah? Yang kedua, hendaknya orang yang diajak bermusyawarah itu adalah seorang mu’min dan taat beragama, karena orang yang tidak beriman sangat sulit untuk dipercaya disebabkan ketidakmampuannya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama. Bahkan sebaliknya, ia akan sangat mungkin menjerumuskan kita ke jurang kesesatan dan kerusakan. Ketiga, hendaknya ia seorang yang sarat akan rasa persaudaraan dan kejujuran serta karena jika belum diketahui kejujurannya, maka tidak mungkin ia dipercayai pendapat-pendapatnya atau diperhatikan keputusan-keputusannya, bahkan kadang-kadang ia menyesatkan orang yang meminta pendapatnya serta bisa membongkar rahasianya. Imam Shadiq a.s. berkata, “Musyawarah tidak akan terjadi kecuali dengan empat syarat dan siapapun harus mengetahui empat syarat tersebut…. Empat syarat itu ialah: pertama, orang yang diajak bermusyawarah adalah orang yang cukup matang pemikirannya; kedua tidak terikat namun ta’at beragama; ketiga ia mampu berfungsi sebagai teman, dan yang keempat ia mampu menjadi saudara yang bisa Anda percayai dalam menyimpan rahasia Anda, karena ia akan mengetahui apa yang Anda ketahui kemudian menyimpannya (sebagai rahasia). Sesungguhnya, jika dia seorang yang matang pemikirannya (berakal), maka kamu akan mendapatkan manfaat darinya. Jika dia seorang yang tidak terikat namun ta’at beragama, maka ia akan betul-betul berusaha menasehatimu. Jika dia seorang teman dan saudara, dia akan menyimpan rahasiamu yang telah kamu sampaikan kepadanya. Jika dia tahu rahasiamu, maka dia mengetahui maksudmu. (Jika keempat syarat ini terpenuhi) maka musyawarah dan nasehat bisa berlangsung.” (Makarim Al-Akhlak ; 367). Oleh karena itu, kita harus bermusyawarah dengan orang yang berpengalaman, beragama, dipercayai dan penasehat, terutama dalam masalah perkawinan yang sangat penting dan menentukan. Orang yang paling utama untuk diminta sarannya dalam masalah perkawinan bagi seorang pemuda adalah orang tua, dengan syarat mereka termasuk orang-orang yang pandai mengatur serta mempunyai cukup pengetahuan. Bagaimanapun juga, orang tua adalah seorang yang paling jujur sekaligus yang pang mampu memainkan peranan sebagai penasehat bagi anak-anaknya dibanding orang lain. Adalah suatu kesalahan jika anak-anak tidak bermusyawarah dengan orang tua mereka dalam masalah perkawinan, karena mereka (orang tua) adalah pembimbing terbaik bagi anak-anak mereka dalam masalah sepenting ini. Mereka juga mempunyai cukup pengalaman dalam kehidupan. Walhasil, mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya dalam memberikan nasehat. Tentu saja perlu ditegaskan lagi bahwa orang tua hanyalah penasehat yang fungsinya adalah memberikan petunjuk untuk kemudian membiarkan anak-anak mereka mengambil keputusan, dan bukan mereka yang memutuskan serta memastikan perkawinan anak-anak mereka itu. Setelah bermusyawarah dengan kedua orang tua, seorang pemuda bisa juga bermusyawarah dengan kakek, nenek, saudara, paman, bibi, dengan tetap memperhatikan syarat-syarat di atas. Tahap berikutnya, musyawarah bisa dilakukan dengan seorang mu’min yang berwawasan luas dan dapat dipercaya terutama teman dan kerabat. Di sini kami merasa harus memberikan nasehat kepada siapapun yang diajak bermusyawarah. Adalah sudah menjadi tanggung jawab agama, akal, dan kemanusiaan Anda untuk ikut memperhatikan dan menjelaskan masalah yang dipaparkan oleh orang yang mengajak bermsyawarah tersebut. Anda juga harus menjalankan tugas ini dengan penuh kejujuran tanpa harus menutup-nutupi kenyataan. Seandainya Anda berbohong dalam bermusyawarah, maka ketahuilah bahwa Anda harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Maka katakanlah yang sebenarnya walaupun membahayakan diri, kerabat, ataupun teman Anda. Amirul Mukminin Ali a.s. berkata, “Siapapun yang menipu kaum muslimin dalam bermusyawarah, maka aku berlepas diri darinya (jika ia sampai mendapatkan azab dari Allah).” Peran Istikharah dalam PerkawinanBanyak orang yang mempercayai istikharah (meminta pilihan kepada Allah) dalam perkawinan anak-anak mereka. Kami di sini akan membahas masalah istikharah ini. Sebelumnya kami ingatkan di sini bahwa istikharah tidak akan berguna bagi siapapun kecuali setelah ia berusaha dan bermusyawarah. Karenanya, ada sejumlah langkah yang dilakukan terlebih dahulu oleh seseorang. Pertama-tama, wanita, lelaki, serta keluarga mereka harus melihat dan mencari tahu tentang calon suami dan istri mereka masing-masing. Jika mereka ragu, maka segeralah bermusyawarah dengan orang yang dapat dipercaya. Kalaupun mereka sampai pada keyakinan setelah melakukan musyawarah ini, maka hendaknya perkawinan segera dilangsungkan. Namun, bila keraguan dan kebingungan tidak juga hilang setelah mereka melakukan kedua langkah tadi, maka istikharah merupakan jalan yang terakhir. Istikharah, seperti yang nampak dari namanya, adalah doa dan permohonan kebaikan kepada Allah. Manusia mengangkat tangannya untuk berdoa ketika dalam keadaan bingung dan meminta kepada Allah agar mengaruniai hidayah kepadanya demi kebaikan agama, dunia dan akheratnya. Ketika itulah ia melepaskan diri dari kebingungan dan memulai bertawakal kepada Allah SWT serta mengharapkan agar doanya terkabul. Sebagai penutup, kami ingatkan lagi bahwa usaha dan musyawarah lebih diutamakan dari pada istikharah. Sebagian orang telah terbiasa ber-istikharah untuk setiap perbuatannya. Padahal, istikharah yang bukan pada tempatnya kadang-kadang menyebabkan kebingungan dan malah membuatnya terhalang untuk melakukan pekerjaan. [] __________ Diterjemahkan dari kitab Ikhtiar al-Jauz karya Ayatullah Ibrahim Amini. 
Posted at 07:25 pm by deccom
Permalink
Tentang Perkawinan ("Temanku ... Semoga Bermanfaat)
Falsafah Perkahwinan Dalam Islam
Firman Allah S.W.T. "Maha suci Allah yang menjadikan kejadian semua berpasangan dari sesuatu yang tumbuh di bumi, dari mereka (manusia) dan dari sesuatu yang mereka tiada mengetahui." (Yaasin: 36) Jika kita perhatikan kejadian di langit dan di bumi, jelas menampakkan kebenaran ayat ini. Setiap yang kita saksikan ada pasangannya. Keadaan tanah di bumi, tidak sama rata semuanya, bahkan dijadikan berpasangan antara tinggi dan rendah. Di suatu kawasan penuh dengan tumbuhan menghijau. Di kawasan yang lain berpadang pasir. Daratan berpasangan dengan lautan. Pokok-pokok yang meliputi bumi ini ada yang jantan dan betina. Kemudian Allah jadikan pula malam berpasangan dengan siang meliputi alam ini. Binatang-binatang yang hidup di daratan dan di lautan juga berpasangan jantan dan betinanya. Demikian pula manusia. Atom yang sangat halus yang tidak dapat dilihat dengan pandangan mata dan terdiri dari komponen-komponen yang berpasang-pasangan. Jika kita bertanya apakah hikmat Allah S.W.T. menjadikan berbagai-bagai jenis kejadian ini dalam keadaan berpasangan? Kita sudah tentu dapat memahaminya dengan mudah. Cuba kita bayangkan bagaimana keadaan alam ini sekiranya ia sentiasa dalam keadaan malam, bumi berkeadaan pamah, semuanya berpadang pasir Manusia semuanya lelaki atau semuanya perempuan. Keadaan dunia seperti ini tentu membosankan dan kejadian ini tidak melahirkan keturunan. Manusia akan hapus dalam jangka waktu yang singkat. Dengan adanya pasangan, dunia kelihatan indah dan sesungguhnya kejadian Allah S.W.T. ini sangat indah. Lelaki Dan Perempuan Dalam Kejadian Manusia Dengan memberikan sedikit peihatian kepada kejadian alam ini, anda pasti mengerti mengapa anda dijadikan lelaki atau perempuan. Kedua-duanya dari acuan yang sama iaitu manusia yang dibentuk dari unsur-unsur kemanusiaan. Tetapi yang satunya berwatak keras dan yang satu lagi lemah gemalai. Gerak langkah melambangkan kekuatan dan gerak langkah wanita melambangkat,i keindahan. Sifat-sifat tersendiri yang ada pada lelaki dan wanita itu menunjukkan bahawa kekuatan lelaki dijadikan sebagai pelindung kecantikan wanita. Betapa indahnya kehidupan manusia ini dengan adanya pasangan di dalam kejadiannya. Betapa jemu dan bosan kehidupan ini jika yang menjadi penghuni alam lelaki semuanya, atau perempuan semuanya. Jadi, kejadian berpasangan antara lelaki dan perempuan it merupakan ramuan yang mengindahkan kehidupan. Allah S.WT. berfirman: "Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ia menjadikan untuk kamu pasangan dari jenis kamu sendiri untuk kamu tinggal tenteram di sampingnya dan dijadikan di antara kamu kasih sayang dan belas kasihan. Semuanya itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir. " (ar-Ruum:21) Kejadian berpasangan juga sebagai saluran untuk meneruskan keturunan manusia.Allah S.WT. berfirman: "Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhan kamu yang menjadikan kamu semua dari jiwa yang satu dan dijadikan daripadanya pasangannya dan berkembang daripada keduanya banyak lelaki dan perempuan... " (An-Nisa':1) Dengan keterangan di atas jelas sekali hikmatallah menjadikan manusia dari lelaki dan wanita, pertama untuk memperindahkan kehidupan manusia itu sendiri. Kedua untuk mengekalkan ketuninan manusia di dalam jangka waktu yang panjang sehingga Allah S.W.T. menentukan berakhirnya sejarah manusia di bumi ini. Ini semuanya adalah rahmat Allah S.WT. kepada manusia yang diamanahkan untuk mengendalikan ulusan di bumi sebagai khalifah-Nya. Manusia akan menghadapi berbagai kepincangan sekiranya pergaulan lelaki dan wanita tidak diatur dan disusun mengikut peraturan tertentu. Tajuan perkahwinan ialah menyusun pergaulan antara lelaki dan wanita supaya dapat mewujudkan suasana kasih sayang yang memperindahkan kehidupan. Tanpa penyusunan yang rapi di dalam peigaulan di antara lelaki dan wanita, kepincangan tidak dapat dielakkan. Kerana itu, perkahwinan disyariatkan. Dalam perkahwinan, ditentukan kewajipan-kewajipan dan peraturan-peraturan yang akan membawa kebahagiaan kepada pasangan yang mematuhinya. Sebahknya jika peraturan-peraturan itu tidak dipatuhi, sama ada kerana kejahilan atau sengaja mengingkarinya, pasangan itu sentiasa dilanda arus yang menjadikan suasana hidup mereka tidak tenteram. Membentuk Keluarga Peraturan yang ditetapkan itu, menentukan pembentukan keluarga di dalam satu institusi masyarakat yang dinamakan rumahtangga. Rumahtangga adalah tahap pertama pembentukan masyarakat. Sebagaimana masyarakat yang besar memerlukan penyusunan yang rapi, begitulah juga masyarakat lumahtangga memerlukan penyusunan. Pembentukan rumahtangga secara bersekedudukan bebas tanpa perkahwinan dan perlindungan undang-undang melambangkan suatu pembentukan rumahtangga yang tidak tersusun. Ia akan berkembang menjadi belukar dan hutan belantara yang hidup di dalamnya binatang-binatang buas. Hak-hak suami isteri tidak dapat dibela dan diberi keadilan di dalam kehidupan seumpama ini. Sebaliknya, rumahtangga yang dibentuk meneiusi perkahwinan yang tertakluk kepada peraturan-peraturan tertentu yang lengkap dan sempurna, akan menjadi seperti pohon-pohon yang ditanam secara tersusun. jika pohon-pohon ini terus dipelihara, ia kekal menjadi taman indah yang menyegarkan kehidupan. Demikianlah halnya sebuah rumahtangga yang diikat dengan perkahwinan akan menjadi tempat yang paling indah dalam kehidupan dan kebisingan anak-anak meniadi seperti siulan burung-burung di taman yang indah. Rumahtangga Sebagai Masyarakat Kecil Mendirikan rumahtangga dalam Islam bukan ulusan individu seperti yang difahami dalam kehidupan bangsa lain terutama bangsa Barat. Rumahtangga dalam Islam merupakan bahagian penting masyarakat dan masyarakat mempunyai tanggungjawab dalam pembentukan- Falsafah Perkahwinan Dalam Islam Oleh kerana perkahwinan adalah perkembangan daripada keluarga yang sedia ada dan hubungan antara kcluarga baru dan yang sedia ada wajib diperteguhkan dan oleh kerana keluarga baru itu sebahagian daripada masyarakat yang boleh mempengaruhi keadaan baik buruk masyarakat, maka perkahwinan yang tidak menghormati masyarakat, seperti kahwin lari, tangkap basah dan lain-lain, sangat dikeji oleh Islam, melainkan di dalam keadaan-keadaan tertentu, di mana pemerintah boleh menggantikan tempat sebagai wali bagi menggantikan wali daripada keluarga si isteri. Prinsip Pembentukan Keluarga Islam Sebagai Nizamul Hayah (peraturan hidup) yang syamil (lengkap) dan sempuma, yang merangkumi pembentukan masyarakat yang sejahtera, Islam telah menetapkan peraturan peraturan perkahwinan dan perjalanan keluarga dengan sempuma. Peraturan ini tidak hanya berbentuk undang-undang tetapi juga menerusi pembentukan rasa tanggung-jawab dan menghormati nilai-nilai akhlak yang dibina menerusi kesedaran beragama yang dipupuk menerusi pendidikan. Kesempurnaan undang-undang yang mengawal perjalanan keluarga tidak mencukupi bagi menjamin ketenteraman keluarga itu. Keluarga mesti disusun dan dikawal oleh rasa tanggungjawab dan menghormati nilai-nilai akhlak Islamiyyah. Rasa tanggungjawab dan menghormati nilai-nilai akhlak itu hanya akan berkembang subur di kalangan orang-orang yang mempunyai kesedaran keagamaan. Kesedaran keagamaan yang terpenting ialah apabila seseorang itu sentiasa mengingatiallah S.WT. dan takut kepada-Nya. Kesedaran ini meiupakan kawalan berkesan untuk seseorang mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditetapkan. Tanpa kesedaran ini peraturan yang sempurna tidak memberi banyak kesan, kerana orang yang tidak dapat mengawal dirinya dengan kesedarannya terhadap wujudnya Allah S.W.T. dan takut kepada-Nya, akan dengan mudah melanggar undang-undang dan peraturan itu. Apabila undang-undang tidak dihormati, ia tidak bermakna lagi walau bagaimana sempurnapun undang-undang itu. Dalam menyusun keluarga yang tenteram dan sejahtera, Islam berpandu kepada dua prinsip. 1. Didikan yang mengukuhkan kesedaran beragama (di dalamnya disuburkan perasaan taat kepada Allah, tidak menganiaya sesama manusia, belas kasihan, bertimbang rasa dan lain-lain) 2. Undang-undang dan peraturan yang menentukan kewajipan, hubungan antara suami isteri, kewaiipan terhadap anak-anak, nafkah, peraturan jika berlaku perselisihan dan penceraian dan sebagainya. Kepincangan dan kegelisahan yang banyak berlaku di dalam keluarga Islam hari ini adalah kerana pembentukannya tidak sangat memenuhi kehendak-kehendak Islam. Selain daripada kurangnya asas-asas keagamaan, pasangan suami isteri pula jahil tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan antara mereka, dan tanggungjawab keduanya terhadap anak-anak. Peraturan Mencari jodoh Sebelum sesebuah keluarga dibentuk, Islam telah menetapkan terlebih dahulu pertimbangan dalam men cari pasangan dengan tujuan menjamin kesejahteraan. Rasulullah S.A.W. melarang kecantikan dan kekayaan menjadi ukuran penting di dalam memilih isteri, tetapi hendaklah memilih yang berpegang kepada agama. Sabda baginda yang bermaksud: "Janganlah mengahwini wanita-wanita kerana kecantikan. Mungkin kecantikan itu memburukkan hidup. Jangan mengahwini mereka kerana harta, mungkin harta itu menyebabkan kezaliman mereka. Tetapi kahwinilah mereka atas dasar agama. Seorang sahaya yang hitam, berbibir tebal yang beragama adalah lebih baik. (Diriwayatkan oleh Ibn Majah). Begitu juga bagi seorang wanita, janganlah menjadikan pangkat dan harta sebagai pertimbangan asasi di dalam memilih suami, kerana pangkat dan harta tanpa akhlak dan agama menjadi punca fitnah yang akan merosakkan kehidupan rumahtangga. Keturunan Dan Kufu' Salah satu asas pertimbangan, selain daripada keagamaan seperti yang telah dijelaskan sebelum ini, ialah keturunan bakal isteri itu. Aspek yang penting yang hendak ditinjau ialah dari segi kesihatan dan keadaan hidup keluarga. Dari segi kesihatan, perlu dikaji sama ada bakal isteri dan suami mempunyai keluarga yang mempunyai penyakit keturunan. Ini tidak bermakna wanita yang mempunyai keluarga yang beipenyakit tidak boleh dikahwini dan dipandang hina. Bahkan apa yang dimaksudkan di sini ialah ketehtian di dalam membentuk keluarga yang mahu mencapal peringkat yang ideal. Demikian juga perlu ditinjau aspek keadaan hidup keluarga bakal isteri, saina ada berpegang teguh kepada agama dan akhlak atau tidak. Keadaan dan suasana rumahtangga ibu bapa, sudah tentu mempengaruhi kehidupan anaknya. Sekiranya bakal suami isteri itu daripada keluarga yang tidak menghormati agama dan akhlak, sudah tentu sukar untuk membentuk suasana yang sesuai dengan kehendak Islam dalam keluarga tersebut. Satu masalah lagi yang menjadi tanda tanya ialah perkahwinan sekufu' atau setaraf. Adakah Islam mengakui suami isteri itu bertaraf-taraf. Jawapannya ya. Taraf ini diukur dari darjat kehidupan. Tentulah tidak sama orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, orang yang suka berpoya-poya dan berbuat maksiat dengan orang yang warak. Dari aspek inilah Islam melihat adanya perbezaan hidup manusia. Walaupun begitu dari segi nilai kemanusiaan, manusia itu sama. Manusia yang jahat pun, dari sudut peri kemanusiaan, perlu diberi pertolongan dan dihormati sebagai manusia. Dari semua perbezaan hidup dan nilai-nilai hidup manusia, tidak ada yang lebih mulia daripada insan yang bertakwa. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan apabila Islam mengakui darjat-darjat hidup manusia. . Perkahwinan kufu' ialah perkahwinan di antara suami dan isteri yang mempunyai persamaan dari segi keadaan hidup. Memang ada aliran hukum di dalam perundangan Islam yang tidak melihat perkara ini sebagai penting. Mereka memandang tidak penting yang kaya berkahwin dengan yang miskin, yang berpangkat berkahwin dengan yang tidak berpangkat. Aliran ini melihat dari aspek kemanusiaan semata-mata, yakni Allah S.W.T. menjadikan manusia sama sahaja. Tetapi satu aliran hukum lagi dalam peiundangan Islam iaitu aliran al-Syafiyyah, memandang perbezaan taraf hidup sama ada dari segi kekayaan, ilmu, akhlak dan lain-lain mempunyai pengaruh dalam menentukan kehidupan rumahtangga, kerana realiti kehidupan seperti ini tidak boleh diperkecilkan. Seorang perempuan kaya yang sudah biasa dengan kehidupan mewah, sudah tentu menghadapi kesukaran untuk menyesuaikan dirinya dengan kehidupan baru yang disediakan oleh suaminya yang miskin. Kesukaran ini boleh menimbulkan masalah yang rumit. Demikian juga seorang suami yang warak berkahwin dengan isteri yang suka berpoya-poya, sudah tentu akan menimbulkan masalah yang melibatkan hubungan suami isteri itu. Inilah realiti kehidupan alam perkahwinan yang perlu mendapat perhatian perundangan dan dari sinilah timbuinya masalah kahwin sekufu'. Aliran perundangan al-Syafiyyah, memberi hak kepada wali untuk melarang anak perempuan berkahwin dengan orang yang tidak sekufu' dengannya untuk mengelak daripada masalah ini dan untuk kepentingan hidup anaknya. Demikian juga aliran ini memberi hak kepada anak perempuan membantah wali mengahwinkah dirinya dengan orang yang tidak sekufu' dengannya, demi untuk menjaga kepentingan diri dan kehidupannya di masa hadapan. Keharusan Berpoligami Di antara persoalan yang meniinbulkan masalah paling kontroversi dalam unisan perkahwinan umat Islam ialah keharusan berpoligami. Ia dijadikan bahan oleh setengah golongan untuk mengecam Islam dan ramai wanita yang tidak puas hati dengan pelaksanaannya. Bagi menghuraikan masalah ini, terlebih dahulu mestilah difahami apakah yang dimaksudkan dengan keharusan itu. Dari segi perundangan, harus bererti sesuatu yang tidak diseksa dan tidak diberi pahala kepada orang yang melakukannya. Ertinya, ia tidak mempunyai obligasi dari segi hukum. Tetapi, keharusan berpoligami ini dari segi pelaksanaannya bukan sahaja tunduk kepada hukum ini. Ia juga tertakluk kepada prinsip pembentukan keluarga yang telah diterangkan sebelum ini iaitu perasaan tanggungjawab dan perasaan-perasaan lain yang dituntut oleh Islam. Sungguhpun dari segi perundangan, poligami boleh dilaksanakan tetapi bukan tanpa mempunyai pertimbangan lain yang dikehendaki agama. Pertimbangan ini termasuklah apa yang dikatakan oleh ahli-ahli tasawwuf bahawa tidak dinamakan seseorang itu bertaqwa sehingga ia meninggalkan yang harus untuk menjaga dirinya dari melakukan yang haram. Dengan sebab itu, jika sesuatu yang harus itu boleh mendorong kepada melakukan yang haram, maka seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan yang haius itu untuk menjaga dirinya dari melakukan yang haram. Dalam masalah poligami, seseorang itu hendaklah menjauhi sekiranya berkahwin lebih daripada satu menyebabkan ia mencuaikan hak-hak isteri dan anak-anak yang diwajibkan ke atasnya, seperti memberi nafkah dan lain-lain. Walaupun hukum mengharuskan, tetapi ia terus menanggung dosa kerana kecuaiannya menjalankan kewajipan tediadap anak-anak dan isteri-isteri. Jika perkara ini menjadi penyakit masyarakat yang menular, pemerintah boleh mengenakan peraturan-peraturan untuk mencegah kerosakan yang timbul daripadanya. Penggunaan maksud keharusan berpoligami secara wajar dapat dilihat daripada contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. dan masyarakat Islam pertama yang dibentuk oleh baginda. Dengan penggunaan yang wajar ini, poligami bukan menjadi masalah kepada masyarakat, tetapi mempakan cara bagi menyelesaikan masalah-masalah yang wujud dalam masyarakat iaitu pembelaan tediadap anak-anak yatim dan janda-janda yang menderita kerana kehilangan atau kematian suami. Pada masa sekarang masalah seperti di atas masih lagi wujud dan tetap akan wujud selagi adanya manusia. Kerana itu poligami tetap berfungsi memberi kebaikan kepada masyarakat jika keharusan ini tidak disalahgunakan. Tetapi sekiranya poligami disalahgunakan dan dilakukan semata-mata untuk memuaskan nafsu dan menempah dosa, ia akan menjadi masalah dan langkah-langkah mengawalnya hendaklah dilakukan oleh pemerintah dengan mengenakan peraturan-peraturan tertentu untuk mengelak keiosakan. Perancangan Keluarga Beralih kepada perbicaraan mengenai perancangan keluarga. Perkara ini juga menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat. Perancangan keluaiga mengandungi dua program. Pertama merancang kelahiran anak dengan menghadkan kelahiran atau membatasinya. Kedua, menyusun pe@alanan keluaiga untuk mencapai kesejahteraan dengan memberi perhatian kepada kebajikan, kesihatan dan keselesaan hidup keluaiga serta memastikan perkembangan yang sihat dalam pertumbuhannya. Program pertama yang bertujuan membataskan kelahiran anak itu berdasarkan teori yang dikemukakan oleh seorang ahli fikir barat yang bernama Maltus. Pada pendapat beliau, perkembangan penduduk dunia, jika dibandingkan dengan pertambahan pengeluaran bahan makanan adalah tidak seimbang. Perkembangan penduduk berjalan dengan kadar 2,4,6,8, sedangkan pertambahan bahan-bahan makanan dengan kadar 1,2,3,4. Jika perkembangan seperti ini terus berjalan, satu bencana kekurangan bahan makanan akan berlaku dan manusia akan menghadapi masalah kelaparan. Dalam program yang kedua, kita mestilah memberi sokongan bagi menjayakan usaha membaiki keadaan kesihatan, kebajikan dan kesejahteraan keluarga. Tetapi sukalah ditegaskan di sini, usaha-usaha ke arah mencapai tujuan tersebut tidak akan dicapai, sekiranya unsur-unsur akhlak dijadikan program sampingan sahaja. Suatu program yang bersifat menyeluruh hendaklah dirangka untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga yang sebenar. Program ini, jika hendak dipercayai oleh rakyat secara berterusan tidak seharusnya dijadikan alat atau piling bagi melaksanakan usaha menghadkan kelahiran anak. Niat yang tidak jujur seperti ini akan menimbulkan akibat buruk dan kesan yang tidak sihat kepada masyarakat. Kewajiban Dan Tanggungjawab Seseorang yang hendak mendirikan rumahtangga hendaklah menginsafi bahawa kewajipan dan tanggung-jawab sedang menantinya. Membina keluarga bertnakna bertambahnya tanggungjawab tediadap isteri dan anak-anak. Di sini digariskan beberapa tanggungjawab penting suami dan isteri di dalam rumahtangga. Kewajiban Suami 1. Suami adalah ketua kelualga, pelindung isteri dan anak-anak. Sebagai pelindung keluaiga dan ketua unit masyarakat yang kecil ini, suami berkewajipan mangawal, membimbing, menentukan tugas, menyelaraskan ke@a, berusaha mencari keperluan hidup keluarga dan berusaha menyediakan faktor-faktor kebahagiaan dan keselamatan keluarganya. 2. Dia wajib menyediakan rumah kediaman, pakaian dan makan minum keluarga. Dia wajib mengajar anak isterinya dengan hukum-hukum agama. Kalau tidak mampu mengajar sendiri dia wajib menanggung biayanya. Dalam hal ini suami yang bijak awal-awal lagi akan memilih isteri yang beragama. Dengan itu dapat meringankan beban dan kewajipannya mengajar agama kepada isterinya. Isteri yang beragama itu, pasti dapat beke@asama mendidik anak-anak dalam kehidupan beragama. 3. Pentadbiran suami di dalam iumahtangga hendaklah berdasarkan rahmah (kasihan belas) berakhlak dan contoh yang baik. la bertanggungjawab di hadapan Allah S.WT. terhadap keluarganya. Bersikap baik dan adil di dalam mengendalikan nunahtangga adalah penting. Rasulullah s.a.W mensifatkan orang yang baik ialah orang yang baik kepada ahli rumahnya. 4. Suami hendaklah mengasuh isteri dengan baik. Rasulullah s.a.w. menyifatkan kaum wanita sebagai amanah Allah S.W.T. Amanah itu hendaklah dijaga dengan cermat. Misalnya jika kita diamanahkan sesuatu barang dan barang itu rosak di tangan kita, tentulah ia akan melibatkan nama baik kita. Sebab itu Rasulullah s.a.w. berpesan supaya bersikap baik terhadap wanita dan sentiasa memesan mereka supaya berkelakuan baik. 5. Tanggungjawab suami adalah penting di dalam membina keluarga. Tidak sah pernikahan orang yang tidak boleh mengendalikan urusan rumahtangga seperti pernikahan kanak-kanak dan orang gila. Adapun orang yang bodoh (safah) yang ditahan dari mengurus harta benda dan dirinya, tidak sah berkahwin melainkan dengan izin walinya. Orang yang mempunyai keinginan berkahwin tetapi tidak sanggup menyediakan mahar dan nafkah tidak digalakkan berkahwin, kata AI-Syafiyyah, sunat tidak berkahwin bahkan hendaklah berpuasa kerana puasa itu penahan keinginan. Demikian juga orang yang tidak mempunyai keinginan dan hendak menumpukan perhatian kepada ibadah tidak digalakkan berkahwin. Ulama berselisih pendapat mengenai orang yang tidak mempunyai keinginan yang mampu menyediakan makan dan nafkah dan tidak Dula hendak menumpukan seluruh hidupn-y-a- kepada ibadat sahaja. Menurut satu pendapat, tidak disunatkan. Menurut pandapat lain sunat ia berkahwin. Kita dapat melihat dengan jelas bahawa perkahwinan itu hanya digalakkan bagi mereka yang sanggup menunaikan tanggungjawab. Apabila berkahwin, menunaikan tanggungjawab kepada keluarga adalah wajib. Kewajiban Isteri Apabila suami sebagai ketua di dalam lumahtangga, maka isteri itu timbalannya yang mempunyai tugas dan tanggungjawab tertentu. Di antara tanggungjawab isteri ialah: 1. Bergaul dengan suami secara baik. Menuiut ulama Mazhab As-Shafie, wajib bagi isteri menggauli suaminya dengan baik. 2. Mengendalikan kerja-kerja rumah. Menurut riwayat Janzani, Rasulullah s.a.w menentukan kewajipan anaknya Fatimah mengurus rumah dan Ali mengurus kerja-kerja di luar rumah. (AI Mar'ah fi Tasawwuri Islam, m.s 105, oleh Abdul Muta'al AI Jibry). 3. Berhias untuk suami. Isteri hendaklah sentiasa berada di hadapan suami dalam keadaan menarik dan kemas. Dengan itu suami menjadi terhibur ketika di sampingnya. Tugas ini tidak dapat dilaksanakan dengan baik oleh isteri kecuali mereka yang faham dan benar-benar perihatin. 4. Pujuk memujuk adalah penting dalam kehidupan rumahtangga. Ibn al-Aswad AI-Dualy berkata kepada isterinya: "Apabila kamu melihat aku marah, tenangkanlah aku. Apabila aku melihat kamu marah, aku pula menenangkan kamu. Jika tidak janganlah kita bersama-sama. " 5. Isteri hendaklah taat kepada suami. Di dalam sesuatu tindakan, jangan sekali-kali membelakangkan suami, kerana dia ketua rumah-tangga. Jika hendak keluar rumah mestilah mendapat izin dari suami terlebih dahulu. Isteri pula hendaklah memahami tugas dan kewajipan suami di luar. Sekiranya ke@a itu untuk Allah S.W.T. dan RasuINya, ia mestilah menyokongnya, memberi galakan dan semangat dan menasihatinya supaya tidak berputus asa. 6. Wanita hendaklah sentiasa menjaga kehormatan diri dan nama suami. Wanita yang menjaga kehormatannya dianggap oleh Rasulullah S.A.W. sebagai wanita yang baik dan patut menjadi ukuran bagi lelaki yang hendak memilih isteri. Inilah di antara kewajipan isteri terhadap suami. Apabila setiap pihak menunaikan tanggungjawab, akan berkembanglah mawaddah atau kasih sayang. Batas-batas dan tanggungjawab suami isteri ini ditetapkan oleh Islam sebagai peraturaif yang bertujuan mengukuhkan kehidupan dan hidup di dalam suasana ibadah kepada Allah S.WT. Rumahtangga akan hancur jika sekiranya setiap pihak mengabaikan tanggung-jawabnya. Dengan mengamalkan prinsip agama dengan betul, akan wujudlah keluarga bahagia yang merupakan tahap pertama pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam Untuk mengakhiri perbincangan kita ini elok juga ditinjau sikap umat Islam hari ini teihadap perkahwinan. Sejak kejatuhan umat Islam dari memegang teraju kepimpinan manusia, dengan kemunculan tamadun barat, ajaran Islam diusahakan supaya lenyap sedikit demi sedikit daripada kehidupan kaum muslimin. Paling tidak ia dikelirukan sehingga masyarakat Islam mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara kesamaran. Kejahilan umat Islam teihadap agamanya, bukan kerana serangan daripada barat sahaja. Keruntuhan personaliti juga turut terlibat sehingga kecintaan kepada ilmu dan kegigihan mempelajarinya menjadi bertambah malap. Akhlak yang baik dan nilai-nilai yang mulia beransur-ansur menjadi layu dengan kemaraan nilai-nilai songsang. la mudah sahaja memenuhi kekosongan dan menguasai kelemahan yang sudah merata di kalangan masyarakat. Keadaan yang disebutkan di atas mempengaruhi sikap masyarakat Islam dalam segenap kehidupan iaitu politik, ekonomi dan sosial, khususnya dalam kehidupan keluarga yang menjadi tajuk pembicaraan kita. Dengan lain perkataan, suasana pembentukan keluaiga hari ini dan kelemahan-kelemahan yang teidapat di dalamnya, bukanlah semata-mata hasil daripada serangan nilai-nilai songsang tetapi juga kerana kelemahan yang sedia wujud dalam masyarakat Islam setelah berlakunya krisis personaliti Islam dan kerenggangan nilai-nilai Islam daripada kehidupan. Walaupun pada umumnya masyarakat kita masih menganggap perkahwinan itu suatu ikatan suci, tetapi minat untuk mempertahankan kesucian itu makin berkurangan dengan berkembangnya maksiat dan lumrahnya perzinaan. Lebih-lebih lagi perzinaan yang berlaku di kalangan ora ng yang sudah beristeri atau bersuami. Kerana itulah maka tujuan perkahwinan untuk menjaga kesucian (Iffah) tidak sangat diperhitungkan oleh banyak kalangan masyarakat kita. Namun begitu, tidaklah boleh dikatakan penyakit ini be@angkit kepada semua lapisan masyarakat kita. Masih banyak lagi di kalangan kita yang tetap memeliharaiffah ini dan mempertahankannya. Masyarakat kita belumlah sampai kepada peringkat kerosakan seperti masyarakat barat. Tetapi jika sekiranya tidak diawasi dan langkah-langkah berkesan tidak diambil, tidak mustahil perkembangan yang meruntuhkan itu akan turut menyerang dan melanda masyarakat kita. Bersekedudukan adalah akibat pembahan sikap terhadap perkahwinan. Perkembangan ini jika dibiarkan akan menggugat kesucian ikatan perkahwinan dan meletakkan institusi keluarga dalam keadaan yang tidak dikawal oleh peraturan dan nilai-nilai akhlak. Perkembangan ini sebenarnya mempakan masalah yang sangat serius yang tidak boleh dihadapi oleh mahkamah semata-mata., tetapi selunih masyarakat adalah terlibat di dalam usaha mencegahnya dan kekuatan masyarakat dalam menolak perkembangan ini adalah lebih berkesan daripada hukuman mahkamah. Untuk mempertahankan kesucian perkahwinan dan keutuhan institusi keluarga yang mempunyai peraturan yang membawa kepada kesejahteraan, nilai-nilai Islam hendaklah diperkukuhkan dalam masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini masyarakat Islam perlu membina kembali personaliti Islam supaya bertambah kukuh. Pengetahuan mengenai Islam hendaklah disebarkan dengan seluas-luasnya dan gerakan dakwah hendaklah diperhebatkan. Masyarakat Islam hendaklah menyedari bahawa institusi keluarga dan syariat perkahwinan wajib dipertahankan kerana punca terbesar keruntuhan sesuatu masyarakat berpunca daripada kehancuran institusi keluarga dan sikap terhadap perkahwinan. Apabila keluarga telah runtuh tanggungjawab memelihara dan mengawal rakyat terserah kepada pemerintah. Sedangkan bagaiinana cekap sesebuah kerajaanpun ia tidak berupaya menjalankan tugas-tugas keluarga seperti memelihara, mendidik dan memberi kasih sayang kepada anak-anak. Tanpa didikan yang sempuma dan biinbingan yang wajar, anak-anak ini akan menjadi generasi yang pincang. Kesimpulan 1 . Perkahwinan adalah cara hidup semula jadi manusia dan asas perkembangan masyarakat secara tersusun dan teratur. Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Islam adalah menjamin penerusan perkembangan masyarakat secara sihat dan tersusun demi kesejahteraan ummat. 2. Perkahwinan adalah ikatan suci yang wajib dipertahankan dan merupakan pembaha hendak berpoligami atau tidak, pertimbangan yang adil hendaklah diberikan di samping tujuan dan roh berpoligami itu tidak dirosakkan. Dalam hal ini keharusan yang diberikan oleh Islam bukan bermakna galakan atau kebenaran yang boleh dilakukan sewenang-wenangnya. Kehanisan berpoli gami bertujuan membela orang-orang yang tidak bernasib baik di dalam masyarakat. Berpoligami yang membawa kepada mengabaikan tugas terhadap anak-anak dan isteri adalah bertentangan dengan kehendak ketaqwaan. 7. Perancangan keluarga dalam pengertian menghadkan kelahiran anak tidak dapat diterima oleh Islam. Tetapi perancangan keluarga dalam pengertian memberi layanan lebih baik kepada keluarga, meningkatkan mutu kesihatan dan keselesaan hidup serta meningkatkan penglibatan teihadap amalan-amalan yang bermoral, adalah wajib di dalam Islam.
src="http://deccom.blogdrive.com/images/Love__love_prv.gif" width=199 height=97 border=0>
Posted at 07:11 pm by deccom
Permalink
Tuesday, March 15, 2005
Naik ... naik ... naik lagi ...
 di Alokasikan kemana aja ya itu..... Kira-kira kita dapat gak ya ... ini naik ... itu naik ... semua naik ... Yang turun apa ya ...
Posted at 06:59 pm by deccom
Permalink
Wednesday, March 09, 2005
Baru ... baru lagi ... bikin lagi .... si desska ampe heran ... bikin melulu tapi gak di isi-isi ... Hehehe ... jangankan dia ... Gue aja juga heran .... Soalnya gue bingung mau di isi apaan ya ...
Posted at 05:19 pm by deccom
|
 |
|
|
|
|